Faisal Tax's Blog

Pajak Demi Pembangunan

Biaya Final Kok Dibiayakan ?

Posted by Faisal, S.Mn. pada 7 Februari 2012


Pada suatu hari di sebuah kantor pajak di Jakarta data seorang perempuan dengan wajah tersungut-sungut, akhirnya sampailah di meja security, sebut saja perempuan naya dan security sodikin :

Sodikin  : Selamat pagi ibu, ada yang bisa saya bantu ? dengan wajah tersenyum lebar

Naya   : Selamat pagi juga pak Sodikin, bisa saya ketemu dengan AR saya pak Daffa ?

Sodikin : Tentu bisa ibu, tapi kok ibu tahu nama saya ?

Naya : Yaelah Bapak ini kan ada namanya..

Sodikin : Oh iya, saya lupa.. hehehe tapi maaf ibu tolong diisi buku agendanya dulu..

………..

Sodikin : Maaf bu naya tolong ibu tunggu di ruang tunggu ini, sebentar saya panggilakan pak Daffa..

Taklama pak Daffa datang dengan wajah tersenyum :

Daffa : Selamat pagi ibu Naya ? Sambil bersalaman… Ada yang bisa saya bantu ?

Naya : Reseh nih Bapak, gara-gara surat Bapak saya dimarahin bos nih pak..

Daffa : Oh ya surat saya yang mana ya ibu, boleh ditunjukkan… Kalau pun bgeitu tak perlu ibu cemberut begitu, nanti ibu tak terlihat cantik lagi..  daffa sedikit bergurau..

Naya : Ini loh pak surat himbauan pembetulan SPT Tahunan PPh Badan 2010

Daffa : Oh itu ibu, ada yang perlu ditanyakan ibu ?

Naya : Tentu dong pak, perusahaan kami kan sudah melaporkan seluruh penghasilan yang kami dapat dan sudah menghitung pajak secara benar, kok dinyatakan tidak benar ? dan harus dibetulkan ? Saya tidak terima ini pak… Perusahaan lain masih banyak loh pak yang tidak membayar pajak secara jujur, kok saya jujur malah dibilang tidak benar.. bagaimana bapak sih… Naya dengan wajah cembetutnya..

Daffa : Maaf ibu saya menghimbau bukan tanpa dasar ibu.. Coba ibu perhatikan laporan rugi laba ibu.. Sedangkan soal perusahaan lain kita punya loh program intensifikasi dan ekstensifikasi serta kita juga punya loh bank data

Naya : Loh apa yang salah bapak.. Semua sudah saya laporkan loh…

Daffa : Bukan permasalah itu bu Naya, coba ibu lihat komponen penghasilan ibu.. Ada pendapatan penjualan barang elektronik, ada pendapatan penyewaan ruangan dan di pendapatan lain-lain ada pendapatan penyewaan peralatan. Lalu coba ibu juga perhatikan perhitungan PPh Badan ibu di lampiran 1771-I nilai penghasilan final yang ibu cantumkan seharusnya adalah nilai bersih(neto)nya?

Naya : Loh kan di formulir disebutkan penghasilan final atau penghasilan yang bukan obyek pajak tidak disebutkan nilai netonya ?  Kalau memang nilai neto lalu biaya yang saya keluarkan dimasukan dimana dong ?

Daffa : Maaf ibu naya, menurut ibu yang dimaksud pajak penghasilan  final ?

Naya : Eh.. Bapak nguji saya ya ! naya sedikit tersinggung.. pajak penghasilan final ya kalau sudah dikenakan final ya selesai..

Daffa : Bukan itu maksud saya, menurut ibu apakah jika penghasilan sudah dikenakan pajak final akan memperhitungkan lagi biaya-biaya yang dikeluarkan ?

Naya : Agak mengerutkan dahi.. Ya tidaklah pak berapa pun biayanya sekalipun rugi kalau dikenakan pajak final tidak diperhitungkan lagi karena pajak final hanya memperhitungkan dari pendapatan yang kita peroleh.. Pada dasarnya sama seperti PPh Orang Pribadi yang memilih menggunakan norma loh pak dibandingkan pembukuan…

Daffa : Nah itu, ibu sudah sependapat dengan saya.. hebat ! ternyata pandangan ibu luas juga… sehingga singkatnya biaya final kok dibiayakan ? karena dalam penentuan tarif final sudah diperhitungkan unsur biayanya sehingga dalam PPh Badannya tidak dapat dibiayakan lagi..

Naya : senyum tersipu-sipu..

Daffa : Nah berangkat dari prinsip dasar pajak final tersebut maka untuk menghitung Pajak Penghasilan Badan(1771) yang diperhitungkan hanya penghasilan tidak final dan biaya-biaya tidak final saja sehingga dalam perhitungan penghasilan neto fiskal (1771-I) penghasilan final dan yang tidak termasuk obyek pajak adalah nilai bersih(neto)nya, hal ini juga sejalan sebagaiman diatur dalam petunjuk pengisian SPT Tahunan bu..

Naya : Saya tidak pernah baca pak, saya hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan dulu.. Saya pikir dulu aja tidak masaah kok.. atau apakah ini peraturan baru ?

Daffa : Tidak baik loh bu kita hanya jadi pengikut tapi tidak tahu dasarnya.. (sambil tersenyum) Ketentuan ini sudah lama dan saat ini masih berlaku, coba ibu baca referensi ketentuan dan buku petunjuk pengisian SPT Tahunan tahun-tahun sebelumnya sebelum tahun 2010..

Naya : Kalau begitu, untuk apa ada koreksi fiskal positif dan koreksi fiskal negatif ?

Daffa : Koreksi fiskal postif dan koreksi fiskal negatif adalah koreksi terhadap biaya-biaya yang berkaitan dengan penghasilan tidak final saja untuk kepentingan penghitungan pajak penghasilan.. Nah jadi kalau ibu cantumkan nilai brutonya bebarti ibu membiayakan dua kali, di pajak finalnya sudah diperhitungkan di PPh Badannya ibu perhitung kan lagi…

Naya : Oh iya ya.. baru terpikirkan oleh saya, saya bangga punya AR seperti Bapak.. (sambil tersenyum). Lalu bagaimana dengan perlakukan penghasilan yang bukan obyek pajak pak ?

Daffa : Ah ibu bisa saja, saya hanya satu dari sekian ribu AR di Indonesia, pastinya ada yang lebih baik dari saya mungkin saja karena ibu belum mengenalnya…(sambil tersenyum). Ok deh kembali ke laptop, waduh maaf maksud saya ke permasalahannya.. Perlakukan penghasilan bukan obyek pajak prisip dasarnya sama dengan penghasilan yang dikenakan pajak final. Di akuntansi kan dikenal dengan istilah cost matching revenue bu, artinya biaya-biaya yang dikeluarkan harus disandingkan dengan pendapatannya. Sebagai contoh misalnya ibu sebagai lembaga pendidikan mendapatkan hibah/bantuan  dari luar negeri maka biaya-biaya yang terkait dengan hibah/bantuan tersebutlah yang dapat diperhitungkan sebagai biaya begitu pun sebaliknya..

Naya : kalau begitu di ketentuan perpajakan yang mana permasalah ini diatur pak ?

Daffa : Kembali ke ketentuan dasar PPh UU nomor 7 tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan (sdtd) UU nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, dalam pasal 6 disebutkan “besarnya pajak penghasilan bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Badan Usaha Tetap ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan …” dengan pengertian karena yang dihtung diisni adalah pajak penghasilan maka biaya yang dapat diperhitungkan adalah biaya yang berhubungan dengan penghasilan tersebut baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Hal ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 94 tahun 2010 tanggal 30 Desember 2010 yang merupakan pengganti dari Peraturan Pemerintah nomor 138 tahun 2000 tanggal 21 Desember 2000 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan dalam pasal 13 diatur sebagai berikut : “pengeluaran dan biaya yang tidak boleh dikurangkan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Dalam Negeri dan Badan Usaha Tetap, termasuk biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan obyek pajak, pengenaan pajaknya bersifat final, dan dikenakan pajak berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.”

Beberepa penegasan tentang beberapa kasus juga sudah pernah diterbitkan kok bu, antara lain :

  1. SE-23/PJ.4/1995 tanggal 31 Maret 1995 untuk perusahaan real estate
  2. SE-16/PJ.4/1995 tanggal 23 Maret 1995 untuk badan usaha pensiun
  3. SE-97/PJ./2011 tanggal 28 Desember 2011 untuk perusahaan asuransi

jadi bukan ketentuan baru loh bu…

Naya : Untuk bidang usaha saya kan belum ada penegasan pak? hehehe

Daffa : Setahu saya memang belum ada sih bu… (sambil tersenyum), tetapi kalau sudah diatur secara jelas diketentuannya apakah masih diperlukan Surat Penegasan(Surat Edaran), nanti ibu dianggap belum mengerti loh bu… Sudah disebutkan secara jelas kok harus dipertegas lagi… hehehe

Naya : Iya pak sudah jelas, tetapi bagaimana pembukuannya dan bagaimana terhadap biaya bersama ? misalnya biaya gaji untuk pegawai umum dan administrasi kan tidak mungkin dipisah !

Daffa : Sebaiknya dibuat pembukuan terpisah saja ibu namun untuk biaya bersama yang ibu tidak mungkinkan dipisah dapat ibu lakukan pendekatan proporsi pendapatan bruto. Sebagai acuan ibu dapat milhat surat edaran di atas.

Naya : Oke deh pak, sepertinya sudah jelas dan saya bisa sampaikan ke atasan saya dan mudah-mudahan dalam waktu dekat saya akan membetulkan SPT Tahunan PPh Badan Tahun Pajak 2010 Perusahaan kami. Senang sekali bisa berdiskusi dengan Bapak, sekali lagi saya bangga mempunyai AR seperti Bapak, sudah ganteng pintar lagi.. heheheh

Daffa : Terima kasih ibu atas apresiasi ibu kepada Direktorat Jenderal Pajak , saya hanya satu orang dari sekian ribu AR, di kantor ini dan di kantor lain masih banyak yang sebanding dengan saya atau bahkan lebih baik dari saya.. Terima kasih atas kedatangan ibu, saya juga senang berdiskusi dengan ibu, harapan saya semoga usaha ibu semakin lebih maju lagi ke depannya dan pembangunan dapat terus dilanjutkan dengan ibu membayar pajak secara baik dan benar.  Ibu, saya tidak pintar karena saya hanya menyampaikan peraturan yang ada dan persepsi yang saya pahami dan kalau soal ganteng saya setuju dengan ibu, saya memang ganteng. hehehe

Oke ibu naya, ada yang lain yang bisa saya bantu.. (sambil tersenyum)

Naya : Oh… tidak ada pak.. Sekali lagi terima kasih..

Daffa : Ok.. (sambil bersalaman) sampaikan salam saya ke atasan  ibu, ibu Tiara ..

Naya pamit dan menuju pintu keluar

Sodikin : Sudah selesai ibu.. (sambil tersenyum)

Naya : Sudah pak.. (sambil tersenyum), terima kasih ya pak sodikin..  Ngomong-ngomong kumis bapak manis juga..

Sodikin : oh…

About these ads

9 Tanggapan to “Biaya Final Kok Dibiayakan ?”

  1. Fitri said

    Ass Pak,

    Pak saya mohon penjelasan mengenai pph pasal 4 ayat 2 atas sewa bangunan.
    Contoh : PT. A menyewa rukan pada PT. B, PT. B mengeluarkan Invoice & PPn nya tgl 12-12-11. sedangkan sewa ruang utk 3 bln dr tgl 13-1-12 s/d 12-4-12
    1. Tgl berapa PT. A hrs potong pph psl 4 ayat 2 paling lambat dan disetor ke kas negara
    2. tgl berapa PT. A harus tulis di bukti potong
    3. tgl berapa PT. A harus lapor paling lambat

    Terima kasih


    ======Faisal======

    1. Pada saat pembayaran atau saat kapan seharusnya dibayarkan dan disetorkan ke kas negara paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
    2. Pada tanggal ibu memotong PPh Pasal 4 ayat (2)
    3. Dilaporkan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya..

    Terima Kasih. :)

  2. Alim said

    Selamat Siang Pak Faisal,
    Dari Cerita di atas, maksudnya pembukuan terpisah itu apakah dibuat 2 buku pencatatan? Sehingga ada 2 Neraca, yang akhirnya nanti akhir tahun harus digabung / dikonsolidasi?
    Mohon penjelasannya Pak.
    Terima kasih.

    =======Faisal======

    Maksudnya membuat catatan (akun perkiraan) atas pengeluaran-pengeluaran atau biaya-biaya yang berhubungan dengan penghasilan final atau membuat buku pembantu apabila biaya tersebut juga ada di penghasilan tidak final sehingga dapat diketahui rincian biaya untuk penghasilan final atau tidak. Kecuali perusahaan mempunyai divisi masing-masing atas jenis penghasilannya sehingga pembukuannya sudah pasti terpisah(terinci) untuk masing-masing divisi.
    Dalam kondisi sudah ada perincian biaya untuk masing-masing penghasilan maka dapat diketahui dengan mudah berapa laba(rugi) bruto masing-masing penghasilan, kemudian untuk mendapatkan penghasilan netonya karena ada biaya yang merupakan biaya bersama maka dapat menggunakan penedakatan proporsi penghasilan bruto untuk membagi biaya final dan biaya bukan final.
    Tidak pada sampai laporan keuangan tersendiri pak alim karena bukan pada dua perusahaan yang terpisah..

    Terima Kasih. :)

  3. saya masih belum paham maksud dari ulasan diatas, salah nya naya itu dimana ?????jadi pengen nanya kalau saya selama ini apabila ada PPh final maka DPPnya masuk ke 1771-1.1 angka 4 yaitu ph yg dikenakan PPh final dan yg tdk tmsk obyek pajak dan ini sifatnya mengurangi angka ph netto komersial. apakah langkah saya sudah benar atau ada petunjuk lain…trimakasih sebelumnya

    =======Faisal======

    Kekeliruannya adalah mencantumkan nilai bruto (DPP) pada angka 1771-I angka 4 sehingga terjadi pembebanan biaya dua kali atas penghasilan tersebut pada perhitungan PPh Badannya.
    Maaf pak ahmad, yang dimasukan ke angka 1771-I angka 4 adalah nilai penghasilan netonya (penghasilan bruto-dikurangi biaya) bukan DPP-nya(lampiran 1771-IV).

    Terima Kasih. :)

    • terima kasih pak atas tanggapannya….tapi saya masih butuh pencerahan lagi nih pak….smoga gak bosan2 ngasih tanggapannya lagi. saya masih belum mengerti mengenai Pembebanan Biaya 2 kali apabila DPPnya PPh final di 1771-I angka 4. penjelasannya sbb :
      1. Penghasilan yang sudah dikenakan PPh final juga merupakan Biaya PPh final.karena sumber dari pembiayaan pasti
      karena ada penghasilan…..dengan menempatkan DPP PPh final tsb itu artinya kita sudah mengeluarkan
      Penghasilan PPh final sekaligus didalamnya biaya PPh final tsb. (catatan: peredaran usaha ditotal baik PPh final atau non final dan tdk ada pengurangan PPh final didalam Lap.Rugi Labanya)

      terima kasih pak sebelumnya atas tanggapan nanti…..cmiiw

      =======Faisal========

      Pak noval maaf mudah-mudahan lebih jelas kalau langsung ke contoh permasalahan, misalnya begini peredaran usaha nilainya sebesar Rp 200juta dan biaya usaha Rp. 160juta, dengan rincian penghasilan tidak final Rp 150juta dan final Rp 50juta sedangkan biaya terdiri dari biaya tidak final Rp 130juta dan biaya final Rp. 30juta.
      Dengan perederan usaha Rp 200juta dan biaya usaha Rp 160juta maka laba komersial adalah Rp 40juta maka jika dikurangkan dengan penghasilan final bruto dengan catatan tidak ada penyesuaian fiskal, penghasilan neto fiskal mejadi rugi sebesar Rp 10juta, padahal kalau dilihat secara terpisah jelas bahwa penghasilan neto fiskal seharusnya adalah Rp 20juta.
      Hal ini terjadi karena terjadi pembebanan biaya final dua kali pada saat menghitung laba komersial biaya final sudah dikurangkan kemudian biaya final dikurangkan kembali pada saat penghitungan penghasilan neto fiskal (dalam penghasilan final bruto ada biaya final di dalamnya).

      Terima Kasih. :)

  4. markus said

    Pak, mau tanya bagaimana dengan PPh pasal 22? Apakah dapat dikreditkan bila: a) penghasilan perusahaan semata-mata dari penghasilan yg dikenakan PPh Final? b) penghasilan perusahaan terdiri dari penghasilan yg dikenakan PPh Final dan tidak final?

    Jika terdapat 2 sumber penghasilan tersebut, berapa PPh 22 yang bisa saya klaim? apakah harus di proposional juga sebagaimana biaya diproposional antara yang berkaitan dengan penghasilan ayng dikenakan pph final dan tidak final?

    Lalu bagaimana bila ada penjualan aktiva tetap? Bila untung kita akan kenakan PPh badan 25%. lalu bagaimana apabila rugi?

    Terima kasih atas perhatiannya Pak.


    ======Faisal=======

    1. Pak markus, kalau penghasilan semata-mata dikenakan PPh final maka kredit pajak dapat dimintakan resitusi atas pajak yang seharusnya tidak terutang.
    2. Untuk kredit pajak tidak diproporsionalkan pak, karena pengeluaran tersebut adalah pajak perusahaan yang diproporsionalkan hanya biayanya saja.
    3. Laba(Rugi) atas penjualan aktiva (bukan barang dagangan) menambah/mengurangi penghasilan neto fiskal..

    Terima Kasih.. :)

  5. Asslm..
    pak saya masih blum mengerti dengan tata cara pengisian espt tahunan badan….. apakah sy bisa konsultasi bahkan sekalipun belajar/ dengan bapak (private) hehehe… mohon bantuannya pak.. trims

    ======Faisal=======

    Wa’alaikumsalam warahmatullohi pak saturiah, maaf sepertinya saya masih sulit mengatur waktu saya.. Tolong ke AR bapak deh.. :)

    Terima Kasih. :)

  6. Anto said

    Met pagi pak….Dari penjelasan point ke 3 di atas, koreksi 1770-I angka 4 adalah nilai Neto Nya, dengan demikian apakah formulir IV angka 8 itu perlu diisi apabila usaha kami itu selain jasa konstruksi dan usaha yg tidak bersifat final? Thanks byk utk waktunya ya pak

    =======Faisal========

    Kalau memang pak anto bukan pengusaha konstruksi tentu tidak ada penghasilan jasa konstruksi, jika tidak ada penghasilan jasa konstruksi tentu tidak ada nilai yang bisa dicantumkan di lampiran 1771 IV angka 8. Tetapi jika bapak adalah pengusaha konstruksi dan memiliki penghasilan jasa konstruksi maka lampiran 1771 IV angka 8 wajib diisi..

    Terima Kasih. :)

  7. Joe said

    Selamat siang pak,
    Mo nanya sedikit masalah laba penjualan aset, jika perusahaan bergerak dibidang sewa kendaraan, saat aset kendaraan dijual dalam pembukuan komersial dicatat sebagai laba/rugi penjualana aset. bagaimana perlakuannya dalam perpajakan apakah bisa di koreksi positif/negatif ? Terima kasih Pak :)

    =======Faisal=======

    Bisa ibu joe, di SPT Tahunan dimasukan sebagai penghasilan di luar usaha dan dalam penghitungan PPh Pasal 25 tahun berjalan laba/rugi dari penjualan asset tersebut karena merupakan penghasilan tidak teratur maka menjadi pengurang/penambah dari penghasilan neto fiskal sehingga didapat penghasilan yang menjadi dasar penghitungan PPh Pasal 25.

    Terima Kasih. :)

  8. Mbo said

    ntar beda dengan omzet di SPT Masa PPN dong pak kl d ekualisasi??
    apa g pa2 tuh??


    =========Faisal=========

    Tidak ada pengaruhnya ke equalisasi omzet pak mbo, karena yang disandingkan omzet keseluruhan (untuk WP Badan 1771-I angka 1) dengan akumulasi omzet berdasarkan SPT Masa PPN.

    Terima Kasih. :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 791 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: