Faisal Tax's Blog

Pajak Demi Pembangunan

Perbedaan Gross Up

Posted by Faisal, S.Mn. pada 21 September 2012


Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan wajib pajak dalam menghtung pajak menggunakan metode gross up, antara lain pihak penerima penghasilan menginginkan nilai yang diterimanya adalah nilai bersih, bisa juga terjadi karena wajib pajak memberikan fasilitas kepada karyawannya dengan tunjangan PPh yang sama besarnya dengan PPh Pasal 21 terutang.

Namun diluar permasalahan  tersebut sebenarnya ada pengaruh ke pencatatan akuntasi dan perpajakannya. Kenapa begitu ? dengan menggunakan metode gross up secara sengaja atau tidak sengaja sebenarnya muncul akun baru atau akun bayangan yakni tunjangan PPh, karena bisa jadi biaya ini sebenarnya tidak ada atau ada namun nilainya tidak sebesar menggunakan metode gross up.   Hal ini timbul karena sesuai ketentuan perpajakan pajak penghasilan tidak dapat dibiayakan/dibebankan (Pasal 9 ayat (1) huruf h  UU PPh No. 36 tahun 2008) . Dengan kondisi ini maka perhitungan pajak yang digross up akan memperbesar biaya yang dibebankan oleh perusahaan, ilustrasinya sebagai berikut :

PT A membayar seorang tenaga ahli berNPWP  sebesar Rp 100.000.000,00 maka jika tanpa metode gross up PT A cukup membayar Rp 97.500.000,00 kepada tenaga ahli dan menyetorkan pajak yang dipotong sebesar Rp 2.500.000,00 namun jika menggunakan metode gross up maka yang dibayarkan ke tenaga ahli penuh sebesar Rp 100.000.000,00 selain itu perusahaan juga menyetorkan PPh Pasal 21 yang seharusnya dipotong sebesar Rp 2.941.176,00 sehingga secara akuntansi biaya tenaga ahli bertambah dari seharusnya Rp 100.000.000,00 menjadi Rp 105.882.353,00

Untuk itu sebaiknya menurut saya metode gross up tidak digunakan karena pengeluaran kas perusahaan menjadi lebih tinggi dari seharusnya dan otomatis mempengaruhi performa perusahaan karena laba perusahaan menjadi terkoreksi.

6 Tanggapan to “Perbedaan Gross Up”

  1. Alim said

    Selamat siang Pak Faisal.
    Berdasarkan ilustrasi diatas jurnal lengkapnya bagaimana ya Pak? Apakah seperti dibawah ini?
    (D) Biaya Tenaga Ahli Rp.105.882.353
    (K) Hutang PPh 21 Rp. 2.941.176,-
    (K) Kas Rp.102.941.177,-

    Dan apakah angka tagihan di Invoice harus sebesar Rp.105.882.353,- Pak?
    Terima kasih Pak.

    =======Faisal========

    Sependapat pak alim jurnal ketika pembayaran gaji…

    Terima Kasih.🙂

  2. halim said

    Pa Faisal saya ingin menanyakan mengenai kewajiban pajak dari usaha SBPU / pom bensin. Bagaimana perlakuan pajaknya jika pemilik merupakan badan hukum atau orang pribadi. Apakah tiap bulan harus lapor, dan bagaimana spt tahunannya

    Terima kasih

  3. santy said

    Pagi Pak Faisal,
    Berdasarkan tulisan bapak diatas mengenai PPh 21 Gross Up, Bolehkah saya meminta perhitungan metode gross up dalam bentuk Excel? kebetulan ditempat saya bekerja PPh 21-nya menggunakan gross up.
    Bagaimanakah jika mengisi PPh 21 gross up ke dalam ESPT PPh 21 Form A1 untuk karyawan?

    Terima kasih

    ========Faisal==========

    File perhitungannya sama saja ibu dengan yang tidak menggunakan gross up, hanya saja apabila ibu ingin menggunakan gross up aktifkan dulu menu iteration di aplikasi excel pada komputer yang ibu shanty gunakan, lalau buat rumus pada kolom tunjangan PPh yakni =kolom PPh Pasal 21 Terutang.

    Terima Kasih.🙂

  4. Daniel said

    Selamat siang pak.

    Mohon maaf jika salah thread ato topik

    saya mau tanya tuk perhitungan THR yang dr file excel bapak sediakan.
    Apakah perhitungan THR itu dihitung dengan cara gaji pokok dikalikan setahun + bonus/THR atau
    Gaji sebulan + bonus/THR baru di kalikan setahun?

    Dan cara perhitungan gaji pokok plus thr yg benar bgmn ya?

    salam hormat

    =====Faisal===========

    Ok pak daniel gpp… Menghitung PPh Pasal 21 apabila bulan yang bersangkutan menerima THR, pertama hitung dahulu PPh Pasal 21 atas THR yakni dengan cara lakukan perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan gaji bulan bersangkutan + THR dengan cara gaji disetahunkan ditambahkan THR dikurangi PTKP dikalikan tarif kemudian hitung PPh Pasal 21 hanya atas penghasilan gaji bulan yang bersangkutan dengan cara dietahunkan lalau selisihkan maka selsish tersebut adalah PPh Pasal 21 hanya atas THR saja.

    Terima Kasih.🙂

  5. lina said

    Selamat Siang Pak Faisal,

    Pak saya ingin menanyakan tentang penerbitan bukti potong 1721 – A1, contohnya :

    Amir bekerja pada PT. A dari bulan Jan – Feb 2013, dan bekerja Pada PT. B dari bulan maret – desember 2013.
    Pada saat PT. B akan terbitkan 1721-A1 untuk Amir apakah pada angka 15 ( Penghasilan neto masa sebelumnya ) bisa cantumkan nominal penghasilan neto pada angka 14 1721-A1 yang diterbitkan oleh PT. A ?

    Mohon penerangannya Pak.

    Terima kasih

    =========Faisal==========

    Bukannya bisa bu lina tetapi memang seharusnya seperti itu dan jangan lupa bu lina juga mencantumkan angka 21 pada PT A pada kolom 20 PT B

    Terima Kasih.🙂

  6. lina said

    Sore Pak Faisal,

    Pak, melanjuti pertanyaan saya diatas mohon pencerahan dari Bapak.
    yang saya baca dari petunjuk pengisian formulir 1721-A1 sesuai per 14/PJ/2013 pada angka 13 disebut “Bagian ini hanya diisi dalam hal pegawai yang bersangkutan merupakan pindahan dari kantor pusat atau kantor cabang atau merupakan peserta dana pensiun yang baru dalam tahun pajak berjalan. Jumlah yang diisikan yaitu sesuai dengan jumlah pada angka 12 dari formulir 1721-A1 yang dibuat oleh pemberi kerja sebelumnya”, sedangkan di angka 18 disebut ” Bagian ini hanya diisi dalam hal pegawai yang bersangkutan merupakan pindahan dari kantor pusat atau kantor cabang lainnya, baik dari pemberi kerja yang sama maupun dari pemberi kerja yang berbeda dalam tahun pajak berjalan, atau merupakan peserta dana pensiun yang baru dalam tahun pajak berjalan. Jumlah yang diisikan yaitu sesuai dengan jumlah pada angka 19 dari formulir 1721-A1 yang dibuat oleh pemberi kerja sebelumnya.

    Pada angka 13 (per14/PJ/2013) tidak disebutkan pemberi kerja yang berbeda, sedangkan di angka 18(per14/PJ/2013) ada disebutkan dari pemberi kerja yang berbeda ??

    Sedangkan jika dikutip dari petunjuk pengisian formulir 1721-A1 sesuai per 39/PJ/2008 pada angka 15 disebut “Bagian ini hanya diisi oleh Pemotong Pajak yang baru baik karena pegawai yang bersangkutan adalah pindahan dari kantor pusat atau kantor cabang lainnya dari pemberi kerja yang sama maupun karena pindah kerja ke pemberi kerja yang lain dalam tahun berjalan, atau oleh Dana Pensiun bagi peserta Dana Pensiun yang baru pensiun. Jumlah yang diisikan adalah sesuai dengan jumlah pada Angka 14 dari Formulir 1721- A1 yang dibuat oleh kantor pusat atau kantor cabang lainnya tempat pegawai tersebut dikaryakan sebelumnya, atau pemberi kerja sebelumnya (untuk pegawai yang pindah dari pemberi kerja lain) atau oleh pemberi kerja sebelum pegawai tersebut pensiun. Untuk keperluan ini, maka pegawai atau penerima penghasilan berkewajiban untuk menyerahkan bukti pemotongan PPh Pasal 21 1721 A-1 (dibuat oleh Pemotong Pajak lama) kepada Pemotong Pajak yang baru”. dan angka 20 disebutkan “Bagian ini hanya diisi oleh Pemotong Pajak yang baru baik karena pegawai yang bersangkutan adalah pindahan dari kantor pusat atau kantor cabang lainnya dari pemberi kerja yang sama maupun karena pindah kerja ke pemberi kerja yang lain dalam tahun berjalan, atau oleh Dana Pensiun bagi peserta Dana Pensiun yang baru pensiun. Jumlah yang diisikan adalah sesuai dengan jumlah pada Angka 21 dari Formulir 1721- A1 yang dibuat oleh kantor pusat atau kantor cabang lainnya tempat pegawai tersebut dikaryakan sebelumnya atau oleh pemberi kerja sebelumnya, atau oleh pemberi kerja sebelum pegawai tersebut pensiun”.

    dilihat dari per 39/PJ/2008 penjelasannya sangat jelas bahwa penghasilan neto masa sebelumnya pada formulir 1721-A1 diisi dari penghasilan neto 1721-A1 yang diterbitkan pemberi kerja sebelumnya pada tahun berjalan, sedangkan dari per 14/PJ/2013 hanya disebut penghasilan neto masa sebelumnya yang diisi pada form 1721-A1 adalah hanya dari pindahan kantor pusat atau kantor cabang.

    Mohon pencerahan dari Bapak.

    Terima kasih

    ========Faisal=========

    Menurut saya pengertiannya sama saja ibu, tidak ada perubahan perhitungan hanya perubahan formulirnya saja.. Kemungkinan redaksinya saja yang tidak sama, mudah-mudahan ada perbaikan sehingga tidak membuat persepsi yang berbeda bu lina.

    Terima Kasih.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: