Faisal Tax's Blog

Pajak Demi Pembangunan

Archive for the ‘PPh Badan’ Category

Tulisan tentang PPh Badan

Yang Baru di SPT Badan Tahun Pajak 2017

Posted by Faisal, S.Mn. pada 20 April 2018

Masak sih ada yang baru di SPT Badan 2017, sepertinya tidak ada.. Kan formulirnya masih sama pake formulir tahun 2010 begitu juga eSPT-nya, lalu yang baru apanya? Mau tau, apa mau tau banget nih..  Ok deh begini nih, yang baru untuk SPT Tahunan PPh Badan 2017 memang tidak semua Wajib Pajak namun untuk Wajib tertentu saja. Nah, lalu siapakah Wajib Pajak tersebut??

Pertama, Wajib Pajak badan yang modalnya terbagi atas saham dan mempunyai utang serta membebani biaya bunganya pada perhitungan pajak terutang maka wajib melampirkan laporan perhitungan rasio utang terhadap modal/Debt Equity Rasio (DER);

Kedua, Wajib Pajak memiliki utang swasta luar negeri maka SPT Tahunan PPh Badannya wajib melampirkan laporan utang swasta luar negeri, lalu ketiga?

Ketiga, Wajib Pajak Badan yang kepemilikan sahamnya adalah pihak di luar negeri atau memiliki transaksi afiliasi dengan pihak di luar negeri maka wajib melampirkan tanda bukti penyampaian notifikasi secara online pada SPT Tahunan PPh Badannya. Trus apaan sih notifikasi? Notifikasi adalah pelaporan bahwa Wajib Pajak yang bersangkutan diwajibkan menyampaikan CbCR atau tidak. Lalau penyampaian notifikasi onlinenya kemana? Pelaporannya disampaikan ke http://djponline.pajak.go.id lalu masuk ke akun Wajib Pajak maka ada menu eCbCR namun jika tidak ada update profile dengan memberi tanda ceklist otorisasi eCbCR, menu yang paling bawah di profile dan ingat bahwa browser yang digunakan adalah chrome, bukan yang lain. hehe..

Keempat atau terakhir, adalah Wajib Pajak Badan yang kedudukannya sebagai Ultimate Parent Entity(UPE) dan memiliki anak perusahaan di luar negeri atau konstituen (anggota group) yang negara tempat UPE berkedudukan tidak mewajibkan penyampaian CbCR atau belum mewajibkan CbCR di tahun 2016, atau negara tempat UPE berkedudukan tidak melakukan kerjasama pertukaran data dengan Indonesia atau pada saat penyampaian CbCR oleh otoritas pajak di negara tersebut ke otoritas pajak (DJP) di Indonesia mengalami kegagalan(failure) tetapi dengan catatan penghasilan bruto satu group tersebut Rp 11 Trilyun ke atas atau EUR 750 juta dengan kesepakatan internasional kurs yang dipakai per-1 Januari 2015;

Nah itu yang kite maksud yang baru di SPT Tahunan PPh Badan Tahun Pajak 2017 cing.. Trus kalau yang mau form excel pelaporan DER, utang luar negeri silahkan download di sini. (klik ini ye..) sedangkan yang mau lebih paham tentang notifikasi dan CbCR dapat kunjungin laman ini nih… http://pajak.go.id/cbcr yang tampilan kayak gini nih…

Oke ye, sekian dan terima kasih.. tapi kalau yang mau nanye juga ga pa pe.. Silahkan.. ^_^

Iklan

Posted in PPh Badan | Dengan kaitkata: | 1 Comment »

MPN G2 Bisa Diinput Di eSPT Tahunan??

Posted by Faisal, S.Mn. pada 23 Februari 2017

Modul Penerimaan Negara (MPN) Generasi 2 (G2) telah diterapkan, salah satu perbedaannya dengan MPN Generasi sebelumnya dimana kode validasi Bank Persepsi/Bank Devisa yaitu NTPP kalau sebelumnya berupa angka sebanyak 16 digit berubah menjadi kombinasi angka dan huruf, lalu bagaimana menginput ke dalam eSPT Tahunan sementara di eSPT Tahunan kolom input NTPP diproteksi hanya untuk numerik saja.

Kalau sebelumnya di eSPT PPh Masa 23/26 hal ini dapat dilakukan trik copy paste dari word/excel tetapi di eSPT Tahunan ini tidak dapat dilakukan untuk kredit pajak dalam negeri atas PPh Pasal 22 Impor, lalu apa solusinya? Solusinya cukup sederhana saja kok, cukup dengan melakukan impor data yang sebelum diisi dalam format impor data excel, yang bentuk tabelnya dapat diunduh di sini. Setelah diunduh ubah dan tambah sesuai data Anda kemudian simpan lalu save as dalam format csv, mudah bukan.

Semoga bermanfaat dan memberikan solusi. ^_^

Posted in PPh Badan, PPh Orang Pribadi | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Keuntungan Penjualan Aktiva Komersial atau Fiskal ??

Posted by Faisal, S.Mn. pada 28 Oktober 2015

21Ketika aktiva dijual secara fiskal atau komersial tidak ada lagi nilai buku ini tidak menjadi masalah, lalu bagaimana ketika aktiva dijual sebelum masa manfaatnya habis baik secara fiskal atau secara komersial? Lalu nilai buku manakah yang dipakai untuk mendapatkan keuntungan/kerugian penjualan aktiva dalam menghitung pajak penghasilannya?

Ada yang berpendapat nilai buku secara fiskal dong, kan untuk menghitung pajak penghasilannya… Ada yang berpendapat secara komersial dong, kan laporan keuangan yang di lampirkan dalam SPT Tahunan PPh adalah laporan keuangan komersial.. Iya bener juga ya..mana yang bener nih? o..o.. oh ya kedua benar  hanya saja melihat dari sudut pandang yang berbeda, satu melihat dari sudut pandang perhitungan PPh dan satu lagi dilihat dari sisi penyajiannya di laporan keuangan. Kalau begitu saya berikan 100 buat kedua-nya…

Tapi kok bisa bener keduanya sih?? Oke.. kalau begitu kita gabungkan pendapat keduanya, memang dalam perhitungan pajak penghasilan berkaitan dengan keuntungan/kerugian penjualan aktiva maka nilai buku yang dipakai adalah nilai fiskal tetapi nilai yang disajikan di laporan keuangan adalah keuntungan/kerugian penjualan aktiva secara komersial. Kalau begitu tidak ketemu dong, masing-masing jalan sendiri?? Tentu tidak !! kan anak saya.. eh salah..

Begini teman, setiap menyatukan sesuatu seperti dua insan yang berbeda dipersatukan melalui sebuah ikatan yang disebut pernikahan, begitu pun perbedaan ini.. Oala tole..tole.. udah deh to the pint aja deh.. Oke..oke.. i’m deal tetapi kita kan budaya timur yang tidak biasa to the point jadi ya basa- basi dulu..

Ok back to ……, dalam kasus ini maka perbedaan tersebut akan dipersatukan dengan yang disebut dengan koreksi fiskal.. eit, kok bisa bukan kah selama ini sudah dilakukan koreksi fiskal dalam setiap tahun pembebanannya kok pas dijual dikoreksi fiskal lagi?? yang betoel dong teman… Begini, kalau keuntungan/kerugian yang disajikan dalam laporan keuangan adalah secara fiskal maka pendapat panjenengan bener… tapi kan laporan keuangan adalah laporan keuangan komersial maka yang disajikan juga secara komersial…  Upss.. bener juga ya… Nah untuk itulah karena yang disajikan adalah laporan keuangan secara komersial maka untuk menghitung pajak penghasilan atas keuntungan/kerugian penjualan aktiva perlu dilakukan koreksi fiskal positif/negatif.. Ok..ok.. ane ngerti sekarang, sorry ye ane cao dulu soale lagi ngaronin nasi neh… ups.. lupa.. muliate da lae..

Posted in PPh Badan, PPh Orang Pribadi, Umum | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »